Juli 03, 2009

Lesso

Lesso
Oleh: Matroni el-Moezany*

“Kenapa engkau lesso akhir-akhir ini?” Tanya Rizal pelan
“Karena aku sekarang bingung sekaligus males, itu aku melihat gambar-gambar, para penguasa selalu bermasalah dan foto-foto orang yang tidak aku kenal”.
“Dimana kamu lihat”?
“Itu banyak di TV, di tepi jalan dan di rumah-rumah di pajang seperti bintang di atas langit”.
“Lho itu para caleg, yang akan menjadi penguasa negeri ini”
“Kenapa harus begitu, kayak artis saja”
“Enggak itu cuma para calon, sekarang hampir mendekati pemilihan presiden dan wakil presiden, apa kamu tidak tahu”
“Aku memang tidak tahu dan tak ingin tahu”
“Kenapa”?
“Sepertinya itu hanya gambar dan foto dan aku lihat wajah-wajah mereka tidak ada yang cocok menjadi wakil rakyat nanti, kalau mereka nanti terpilih pasti mereka akan menjadi maling”
“Kamu jangan sembarangan berkata seperti itu”
“Kenapa”
“Nanti kamu di hukum”
“Aku kan cuma bilang, kalau mereka itu tidak layak menjadi wakil kita nanti”
“Terus, menurut kamu siapa yang pantas dalam hal ini”
“Aku juga tidak tahu, aku sekarang males, mendengar janji-janji mereka, mendengar kelembutan mereka yang hanya berwaktu, mereka semua saling berkata melangkah untuk perubahan, perubahan apa-apaan, paling-paling hanya kekosongan yang ada, sebab sejak dulu bangsa kita selalu seperti itu, hanya janji”
Kami pun berdiam, hembusan angin dan mesin kereta lewat hanya mengisi keterdiaman aku dan Rizal, sebab kita berdua sudah merasakan hal itu sejak kita tahu warna merah dan hitam. Matahari juga ikut berubah warna karena melihat kami dalam kebingungan, kemalesan melihat keadaan menjadi tidak nyaman, tidak enak. Mulai dari adanya gambar dan foto, sampai kata-kata kosong yang dilemparkan kepada rakyat. Sementara kita berdua adalah orang bodoh yang bisa di bohongi oleh orang-orang pintar seperti mereka.
“Salahmu kenapa milih jadi orang bodoh”
“Bukan, secerdas-cerdasnya kita, kita tetap dibodohi oleh mereka”
“Aku jadi males, memikirkan itu semua, ketakmengertian tidaklah mereka jawab dengan jujur, tapi malah mereka berpesta untuk kepentingan sendiri, sepertinya mereka harus belajar kepada orang bodoh seperti kita, sebab mereka harus belajar dari bawah, sesuatu yang sangat sederhana, mulai dari merasakan rasa, menangis ketika teman kita menangis, lapar ketika melihat rakyat kita lapar, sedih ketika melihat teman kita sedih, itu semua ada dalam duniaku”
“Itu semua kan sudah diteriak-teriakkan oleh calon wakil kita” jawab Rizal pelan.
“Memang siapa yang tidak bisa kalau hanya meneriakkan, ayam, kucing dan tikus juga bisa, tapi masalahnya tidak semudah itu yang kita harapakan, bukan teriakan, tapi bagaimana mereka itu belajar dan melihat keadaan kita saat ini”
“Mereka kan sudah membuktikan, dari diadakannya kampanye ke rumah-rumah warga dan membagikan minyak, beras dan uang”
“Ya, tapi itu cuma sebatas sampai di sana, kita lihat nanti pasti mereka tidak akan mendengarkan kita, kata-kata kita dan teriakan kita, sebab kita hanya orang kecil yang sangat sulit di lihat, sebab tanpa kita menjadi orang penting, omongan kita tidak di anggap apa-apa”
“Terus kita harus bagaimana, menjadi orang besar seperti mereka yang akhirnya juga belajar maling atau menjadi calon maling dulu”
“Aku juga tidak tahu, makanya aku males dengan itu semua, sudah banyak mereka merusak tubuh, mata, dan kaki-kaki bangsa kita, sepertinya aku ingin pindah saja di Amerika atau diamana dan mendirikan partai, di sana lalu menyerang orang-orang selalu bohong dan hanya janji-janji kosong, aku sekarang males”
“Males itu tidak akan menjadi jalan untuk menyelesaikan persoalan bangsa kita, kamu harus semangat dan berpikir kritis”
“Aku sudah tahu itu, tapi aku berpikir sudah males, cepek, karena sudah bertahun-tahun bahkan berabadabad aku berpikir masalah itu, makanya aku tanya padamu, karena aku tidak kuat lagi melihat rakyat kita di bodohi seperti ini”
“Mana buktinya kalau kamu sudah berpikir masalah bangsa”
“Coba baca buku-buku dan opini rakyat yang selalu mengkritik para penguasa yang tidak becus mengurus bangsa dan bahkan surat kabar setiap hati selalu mengkritik hal itu”.
“Roni menunjukkan kepada Rizal tentang tulisan dan ilustrasi dari setumpuk buku dan koran yang menggambarkan orang-orang dan peristiwa-peristiwa termasyhur, seperti keadaan bangsa kita, Rizal bertanya, siapa itu? Apa yang dilakukannya, kamu tahu Ron, katakan”
“Mengapa mereka berlaku buruk terhadap rakyat?” Rizal berkata kepada Roni, ini adalah pengembang amanah rakyat.
Keterdiaman selalu menjadi luah dari kemalesan kita, sebab sebenarnya di sana ada pesan rahasia untuk Rizal, dan baru setelah Rizal aku ajak untuk merenungi keadaan bangsa Rizal menjadi ikut males memikirkan bangsa yang tidak memihak kepada rakyat. Kita berdua menjadi seperti bibir layu keluh untuk membicarakan itu semua. Dan akhirnya kita berdua lapar karena seharian tidak makan. Memang menjadi kebiasan kita berdua tidak makan satu dua hari bahkan sampai tiga hari tidak makan nasi. Kebetulan Roni punya uang lima ribu jadi bisa untuk makan berdua dengan lauk tempe. Alhamdulillah sudah kenyang.
“O, ya Ron, kamu punya pemikiran mengenai bangsa yang tidak memihak kepada rakyat itu dari mana?”
“Baca koran dan buku-buku”
“Aku juga baca koran tidak ada kabar seperti yang kamu pikirkan”
“Berarti kamu belum paham apa itu politik”
“Politik, apa itu politik?”
“Kamu belum tahu”
“Ya, karena selama ini engkau tak memikirkan masalah seperti itu”
“Terus, selama ini apa yang kamu kerjakan di sini, menjadi mahasiswa seharusnya kamu tahu keadaan bangsa dan rakyatnya, bagaimana bisa kamu akan mengerti rakyat kalau kamu di sini hanya main-main”
“Sebenarnya tidak masalah engkau tahu masalah itu, karena hal itu tidak penting, lagian kalau misalnya engkau tahu, pasti akan sebel dengan keadaan bangsa yang tidak karua, lebih baik engkau tidak tahu daripada menyakitkan hati, karena masih banyak melihat orang kelaparan”
Kami pun terdiam, melayani angin yang cepat meramaikan dedaunan. Sesepi senja seperti kemaren ketika kita berdiam diri di tengah sawah. Sedikit terdengar bunyi mobil, motor, dan kapal yang ikut meramaikan sepian kita. Senja pun meranjak sederhana menuai waktu tua, dan mengisi berita kosong, dan bohong. Kemudian Rizal tercengang.
“Mengapa engkau mengatakan kalau ada berita bohong, dimana?
“Banyak di TV di koran dan dimana-mana juga banyak”
“Lho, kabar itu benar adanya” jawab Rizal ngotot
“Memang benar adanya, kayaknya menjanjikan, tapi ketika di lihat di lapangan, kabar itu tidak ada, misalnya kabar kalau bangsa ini akan dimakmurkan dan disejahterakan, kalau aku menjadi pemimpin, katanya, tapi banyak tempat-tempat masyarakat yang digusur oleh pemerintah hanya untuk kepentingan sendiri, bahkan gara-gara di gusur dan ganasnya pemerintah ada bayi yang mati kemaren di Surabaya, apa engkau masih percaya dengan janji-janji bohong seperti itu?”
“Iya sich”
Senja mulai sedikit terlihat, dan kabar pun sudah terlihat di meja perjumpaan antara perjanjian jiwa dan keberlanjutan. Seperi apa?

Matinya Budaya Kontemporer di Indonesia

Oleh: Matroni el-Moezany*

Berangkat dari sensitifitas kegelisahan bersama, para budayawan dan sastrawan Indonesia ketika melihat para kandidat pemimpin bangsa Indonesia yang tidak sadar akan budaya kreatifitas bangsanya sendiri, seperti per-film-an, seni rupa, tari, musik, sastra, dan teater yang bisa menjadi nilai tambah dalam perjalanan ekonomi kita ke depan.
Boediono dan teman-temannya misalnya mengatakan reformasi perjakan adalah perlu. Tapi mereka ketika berbicara jati diri bangsa sama sekali tidak menyentuh masalah yang sangat substansial dari bangsa kita bagaimana pentingnya reformasi perpajakan untuk mengembangkan kebudayaan dan kesenian kontemporer di Indonesia.
Padahal setahun yang lalu sudah di beri peringatan oleh sejumlah budayawan yang mendatangi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Direktorat Pajak. Mereka mengusulkan Undang-Undang Pajak lebih berfungsi untuk memberikan keringangan pajak bagi perusahaan atau organisasi nirlaba yang mensponsori acara kebudayaan. Anehnya realitas ini selalu terjadi di Negara kita ketika ada acara pentas budaya dan pentas seni. Artinya pemerintah memang kurang mendukung dalam pengembangan kebudayaan Indonesia. Apakah ini karena dari kandidat pemimpin bangsa kita rata-rata memang belum ada keinginan atau strategi khusus untuk mengembangkan kesenian modern?
Tentunya dengan melihat itu semua, siapa nanti yang terpilih menjadi pemimpin bangsa agar mendorong sektor swastanya giat mendanai kesenian Indonesia sendiri. Pejabat kita masih berbicara kebudayaan tari-tarian daerah. Mereka tidak sadar kalau ada seni kontemporer. Bahkan Ignas Kleden menganggap visi kebudayaan para kandidat calon presiden masih kuno. Mereka masih melihat kebudayaan sebagai warisan yang harus dipelihara.
Kalau kita lihat ketiga kandidat memang jauh dari kesenian. Budayawan Radhar Panca Dahana melihat Jusuf Kalla, yang latar belakangnya pegadang, dari sononya jauh dari seni. Ada pun SBY, meski bisa membuat lagu, pemahamannya tentang kesenian sangat normatif. Apa lagi Megawati, lebih jauh ketimbang keduanya (Tempo/3/7/09). Mereka memahami kebudayaan hanya berdasarkan memori personal antara dia dan ayahnya, Soekarno, yang memang mencintai kesenian.
Kematian mereka terlihat jelas ketika para pemimpin tidak mengetahui perkembangan kebudayaan saat ini sudah sampai mana? Sampai tahap apa, dan apa kesulitannya? Sangat mengherankan ketika mereka berbicara visi ekonomi, tidak menyinggung industri kreatif. Mereka tidak buta bahwa Singapura kini menjadi memacu dirinya untuk menjadi paramiter kesenian kontemporer Asia. Pemerintah Singapura mendirikan National Art Council (NAC). Setiap tahun NAC bekerja sama dengan Singapure Tourism Board menggelar Singapore Art Festival yang mendatangkan kelompok tari, musik, dan teater avant garde seluruh dunia (Tempo/3/7/09).
Mereka semua bermabisi untuk menjadi pusat seni rupa Asia. Pemerintah memberi izin untuk merehab gedung klasik mahkamah konstitusinya menjadi Galeri Nasional, setara dengan Museum of Modern Art (MoMA) New York. Dalam bidang warisan budaya, mereka mendirikan Museum of Asian Civilization, yang secara regular menggelar pameran-pameran artefak dari seluruh Asia. Indonesia dimana? Masihkah kita akan terus tidur?
Sebagai contoh Korea Selatan yang sangat mendorong industri kreatif film. Bahkan menteri Kebudayaan dan Pariwisata kita, Jero Wacik tidak mengerti festival film untuk apa, ini sangat lucu, masa’ menteri kita bloon. Bahkan di masa menteri Jero Wacik kebudayaan bukan berkembang malah tamba termarginalkan, karena Departemen Kebudayaan ditempatkan bersama Departemen Pariwisata. Padahal yang lebih baik secara intelektual, departemen kebudayaan disatukan dengan Departemen Pendidikan.
Selama ini pemerintah selalu membuat regulasi untuk mempersulit perkembangan kesenian di Indonesia. Sebenarnya ada banyak komunitas yang memiliki semangat untuk mengembangkan kesenian di tanah air, dan seperti birokrat antusias, tapi prosedur pelaksanaannya sangat dipersulit. Sama sebenarnya dengan tidak mendukung perkembangan kesenian. Indonesia sudah tidak peduli bahkan tidak menyediakan infrasruktur untuk latihan dan pertunjukan seni kontemporer.
Ketika negeri sendiri saja pemerintah kita tidak memiliki visi kebudayaan, apalagi diplomasi kebudayaan kontemporer kita di luar negeri. Inggris misalnya memiliki British Council untuk mempromosikan kebudayaan kontemporer di dunia internasional. Belanda memiliki Erasmus. Jerman memiliki Goethe. Jepang memiliki Japan Foundation. Dan Indonesia seharusnya memiliki pusat kebudayaan Indonesia di luar negeri yang fungsinya sama seperti Goethe, Erasmus, dan Brtish Countil. Indonesia dimana?
Indonesia masih jauh, jauh sekali. Kita pasti tidak memiliki uang. Kalau mau di korupsi pasti punya uang. Pemerintah sama sekali tidak memiliki reaksi untuk diajak dalam menyemarakkan dan berpesta kebudayaan kontemporer. Sampai saat ini yang bermasalah adalah tetap atasan-atasan kita yang tidak memiliki selera tentang kesenian kontemporer. Sampai detik ini, kita berharap, hanya bisa berharap, presiden terpilih mau memilih duta besar dari kalangan cendekia yang mengerti budaya dan seni kontemporer.
Kita masih ingat dan mungkin harus sadar, Negara seperti Cile pernah menempatkan penyairnya, Pablo Neruda, sebagai atasan kebudayaan. Juga Meksiko yang menugaskan penyairnya, Octavio Paz, sebagai duta besar di India. Jadi intinya pilihlah presiden yang minimal memiliki kepekaan terhadap kebudayan dan kesenian walau pun presiden terpilih tidak dari latar belakang seni bahkan tidak suka seni, yang penting memiliki rasa seni sedikitnya melihat seperti apa seni dan apa fungsinya serta perkembangannya ke depan.

Juli 02, 2009

Rasul sebagai Agent of Change Humanity




Judul : Revolusi Sejarah Manusia, Peran Rasul sebagai Agen Perubahan
Penulis : Dr. Munzir Hitami
Penerbit : Lkis
Cetakan : Pertama, 2009
Tebal : 286 hlm
Peresensi : Matroni el-Moezany*

Al-Qur'an, meskipun bukan kitab sejarah, banyak memuat informasi mengenai dinamika perubahan umat manusia dan juga jatuh-bangunnya sebuah bangsa yang disebabkan oleh tindakan manusia itu sendiri. Al-Qur'an juga banyak mencatat peran penting para Rasul dalam mengubah suatu masyarakat bangsa dari masyarakat tribal tidak bermoral ke arah masyarakat religius berperadaban. Buku ini mengkaji secara detil konsep perubahan umat manusia dalam Al-Qur'an dan peran penting para rasul sebagai agen perubahan.
Manusia sebagai makhkluk yang dinamis yang senantiasa bergerak dan berubah. Dia bergerak bukan tanpa tujuan, tapi dia akan membentuk kultur, tatanan social, dan peradabannya sendiri. Hanya saja pergerakan dan perubahannya seringkali terjadi ketidakseimbangan antara perubahannya dengan kultur yang dia buat sendiri, sehingga memunculkan dinamika dalam sejarah manusia. Sebab perubahan sebuah bangsa itu tidak terlepas dari pergesekan dan perubahan yang dikerjakan oleh manusia sendiri.
Sepuluh tahun terakhir ini banyak sejarawan manaruh perhatian terhadap masalah perubahan manusia dan mereka mencoba untuk membuat persepsi-persepsi masa depan dengan melirik pada sejarah masa lampau. Seperti yang dikatakan Albet Camus bahwa untuk melihat dan merubah suatu bangsa kita harus melirik ke belakang yaitu sejarah. Dari salah kemudian banyak teori yang dihasilkan untuk mengamati perkembangan perubahan sejarah manusia.
Salah satunya adalah buku ini yang mencoba mengamati dan mengkaji konsep perubahan manusia dalam perspektif al-Qur’an. Artinya lewat pendekatan konseo tafsir semantic-tematik, Munzir menemukan informasi yang jelas dalam al-Qur’an menganai perubahan manusia dari masa ke masa. Di sini Munzir mencoba mengadakan perenungan kembali akan makna serta pesan-pesan dari kitab suci itu semakin ditutuntut terutama pada saat ilmu pengetahuan dan teknologi mulai mencapai kemajuan yang sangat dahsyat dengan ditandai meluasnya berbagai cakrawala keilmuan dengan berbagai berbagai aspek penafsiran.
Kalau kita menelaah ulang tentang perubahan seperti sudah tidak asing lagi, tapi dalam buku lebih bagaimana perubahan itu menjadi bermakna ketika ada dinamika social yang dihadapi oleh masyarakat setempat, artinya pemaknaan terhadap perubahan lebih manarik karena Munzir menampilkan tema tentang perubahan menurut terminology sejarah.
Semestinya sekali lagi, semestinya revolusi sejarah manusia ini membikin kita dan masyarakat kita lebih sehat. Bukankah masyarakat yang hidup di tengah keragaman pilihan akan jauh lebih sehat secara sosial ketimbang mereka yang hidup di tengah pemasungan dan keterbatasan (apalagi ketiadaan) pilihan?
Begitulah. Tuturan sejarah dariseberang perubahan, termasuk dari kalangan pelarian, ikut memperkaya kita belakangan ini. Karya-karya ini tak saja menambah panjang deretan panjang sumber-sumber literer untuk memahami kemarin dan hari ini, tetapi juga mengasah kemanusiaan kita dengan caranya sendiri.
Secara pribadi, terus terang saja, buku sangat menarik untuk kita jadikan rujukan bagi orang yang benar-benar ingin tahu seperti apa cara dan politk Rasul dalam merubah bangsanya yang memposisikan manusia secara layak di tengah pergulatan zamannya. Saya lebih suka pendekatan yang menempatkan manusia-manusia sebagai noktah-noktah kecil yang mesti berjuang di tengah pusaran sejarah yang kadang-kadang tidak sepenuhnya mereka pahami. Bagi saja, revolusi, yang memposisikan manusia apa adanya semacam itu, jauh lebih jernih dan menyentuh rasa.
Atas alasan itulah saya tidak terlalu menggandrungi arus baliknya Pram yang memposisikan Wiranggaleng sebagai seorang pahlawan besar yang seolah-olah mengusung dan membawa sejarah nyaris sendirian. Saya lebih terpesona oleh tetralogi Bumi Manusia-nya Pram yang memposisikan Minke sebagai satu butir pasir di tengah pusaran sejarah modern Indonesia. Begitual posisi Rasul dalam buku ini sebagai agen peruabahan.
Maka, saya bukan saja merasa nyaman dan damai ketika ada orang yang berjihad dengan cara Rasul. Lebih dari sekadar itu, saya seperti menemukan kisah seorang manusia dalam sebuah perjalanan panjang dengan segenap romantikanya, termasuk romantika sebuah revolusi sejarah Manusia pada waktu itu.
Lewat buku “Revolusi Sejara Manudia” ini Munzir tidak mempahlawankan siapa pun dan tak mensimplifikasi sejarah sekadar hikayat orang besar. Lebih dari sekadar itu, asahan juga berhasil menggambarkan secara hidup bagaimana komunisme bekerja dalam sistem yang sesungguhnya tidak seragam Lalu, yang membuatnya menjadi hidup adalah dijadikannya pergulatan manusiasebagai unsur utama.
Dalam bahasa sederhana, sebagaimana terwakili oleh judul yang dipilih Munzir, inilah perjalanan syukur seseorang yang masih manusia meskipun revolusi telah berhasil merubah cara berpikir manusia. Bersama dengan sejumlah karya sejenis yang belakangan ini memperkaya khasanah keagamaan kita, buku ini mengasah kemampuan kita untuk menghargai kemanusiaan melintasi sekat zaman dan kungkungan ideologi. Selamat membaca dan mengapresiasi.

Matroni el-Moezany, habis main kasti

Juni 30, 2009

_"LeMBaH KaTa-KaTa"_: Surat Cinta

_"LeMBaH KaTa-KaTa"_: Surat Cinta

Indonesia dan Puisi

Oleh: Matroni el-Moezany*

Setiap penyair tidak akan pernah lepas dari kata. Bahkan siapa pun anda tidak akan lepas dari rumpunan kata. Sebab kata-kata merupakan sebuah masyarakat besar, lebih besar dari masyarakat dunia. Mengapa? Kata-kata yang menjadikan semesta ini ada, dan dengan kata kita menjadi besar yang di akui dunia. Itu tiada lain kalau tanpa kata, hanya dengan kata. Apalagi dalam dunia puisi, kata-kata sangat ditekankan untuk mengolah dan meramu agar tercipta ladang sebuah bunga yaitu bunga kata yang indah.
Sastrawan menjadi di kaya dengan kata. Kekuatan kata menjadi penentu utama dalam dunia puisi. Tidak semua orang suka puisi, sebab puisi adalah dunia realitas yang dispekulatifkan dengan kata walau lahir juga dari realitas sosial. Artinya lahirnya kata dalam puisi berangkat dari realitas yang di internalisasikan, baru kemudian di eksplor. Jadi sangat sulit bagi orang-orang yang belum terbiasa meramu kata dalam jiwa.
Meramu kata sama seperti kita meramu jamu. Bagaimana agar jamu mujarab, yaitu dengan berbagai macam ragam yang tercampur dalam satu takaran, sehingga terbuat menjadi jamu. Puisi juga demikian, kita mencari sebanyak mungkin kata-kata kemudian kita ramu menjadi puisi. Memang butuh keseriusan dan konsistensi yang benar-benar diperjuangkan. Artinya tidak serta merta kita menulis tanpa kita memikirkan roh dari puisi tersebut. Setiap huruf dalam puisi pastinya memiliki makna tersendiri bahkan satu huruf saja sudah banyak menampung beragam rasa dan makna untuk di sampaikan kepada audeins.
Itulah kelebihan puisi ketimbang yang lain. Puisi bisa menjadi prinsip hidup sang kreator, tapi puisi bisa menjadikan kreator gila. Tergantung kita meminej. Sebab puisi sangat luwes dan lembut. Seorang pengarang puisi jiwanya pasti lembut, dan memeliki kepribadian yang kuat. Tidak mudah orang bisa mempengaruhi penulis puisi, sebab menulis puisi adalah dunia kebebasan disiplin, sopan dan bermoral. Menulis puisi tidak sama dengan berjihad melawan melawan teroris. Tapi berjihad melawan kata-kata dengan perangkat imajinasi.
Puisi sebuah dunia seperti yang kita lihat ini, tapi bedanya hanya terletak di metafisis akal. Artinya penyair akan berusaha mencari kata yang tidak ada di dunia yang kita lihat, tapi penyair akan selalu mencari kata di luar materi. Seperti gelombang misalnya, gelombang akan menjadi matahari ketika sang penyait berkeinginan memiliki matahari lewat gelombang. Sulit memang, kadang ketika kita membaca puisi, kita bertemu dengan kata-kata yang sangata sederhana, tapi maksud dan roh yang di dalam kata-kata tersebut membentuk dunia dan makna yang tak terbatas.
Jadi tidak heran kalau perkembangan puisi di Indonesia sepuluh terakhir ini kurang dimenati banyak orang. Memang seperti itu puisi, sebab puisi butuh tidak butuh banyak orang, tapi bagaimana puisi ada dan berkualitas. Apakah puisi tidak memiliki dampak terhadap masyarakat? Seperti yang saya katakan di atas bahwa puisi lahir dari realitas sosial, realitas jiwa, dan realitas politik jadi dampak terhadap masyarakat itu pasti. Sebab dalam puisi kita pasti menemukan banyak dunia, seperti dunia realitas, dunia jiwa, dunia politik, dunia kekerasan, dunia orang kelaparan, dan dunia kemiskinan, semuanya ada dalam dunia puisi, persis sama dengan Indonesia.
Bedanya dengan Indonesia, kalau puisi lebih bagaimana memberi terhadap masyarakat, tapi kalau Indonesia bagaimana kita bisa berjanji terhadapa masyarakat. Jadi antara puisi dan Indonesia sangat jauh berbeda, jadi tidak heran kalau para pemimpin negara tidak pernah berjanji untuk sastra atau puisi, bukannya Jusul Kallah pernah membaca puisi? Dia hanya membaca belum tentu dia tahu apa keinginan puisi yang dia bacakan.
Indonesia boleh bangga dengan Chairil Anwar, WS Rendra, Taufiq Izmail, Sutardji Caulsum Bakhri, Gus Mus, dan penyair-penyair Indonesia yang lain, tapi apakah dengan kita melihat kebelakang kita akan sama seperti mereka? Saya yakin tidak mungkin, sebab Indonesia lebih mementingkan dirinya daripada turun ke bawa untuk memberi. Saya sudah turun, katanya, tapi pemimpin kita turun ke rakyat ketika menjelang pemilu saja habis itu sudah habis pula rakyat.
Mengapa kemudian, puisi di Indonesia termarjinalkan selama ini? Alasannya sudah jelas bahwa pemerintah sangat-kurang apreseatif terhadap perkembangan puisi di Indonesia. Apakah karena di MPR, di DPR, dan para birokrat kita tidak ada yang bisa menulis puisi? Kalau memang benar seperti itu Indonesia, jangan harap kita akan menjadi lebih baik ke depan. Bukanya dunia puisi menjadi penentu utama dalam menyelesaikan masalah rakyat, tapi setidaknya puisi menjadi dasar awal untuk menjadi seorang pemimpin rakyat.
Di Indonesia yang benar-benar tahu persis keragaman kehidupan rakyat hanya penyair, dan rakyat sendiri. Pemimin kita hanya sibuk bekerja untuk rakyat asing. Sementara rakyatnya sendiri diabaikan. Buktinya sudah terjadi, jadi saya tidak harus menampilkan masalah rakyat, pemimpin pasti tahu sendiri apa yang di maui rakyat sekarang? Kalau masih butuh bukti pargilah engkau ke pasar, lalu engkau beli dagangan mereka atau pergilah engkau ke sawah lalu bajaklah sawah.
Begitulah keadaan Indonesia dan puisi kita saat ini. Entah kapan itu akan terhenti, kita hanya bisa berharap, tanpa ada usaha, walau pun kita usaha, usaha kita di sia-siakan oleh pemimpin kita sendiri, sekarang kita hanya bertanya apa maksud pemimpin kita sehingga membongkar usaha-usaha rakyat. Sementara puisi tetap hidup seperti penulisnya, walau hanya menghasilkan gaji hanya cukup untuk makan sehari. Buat apa puisi kalau tidak meyakani masyarakat.



*Penyair yang masih gelisah dengan dirinya sendiri karena kelaparan

Juni 28, 2009

Bintik Hujan Dari Langit Seperti Sebuah Tanya

Dan belum ada penyair yang sanggup mencari jawabannya

Jogja, 27 Juni 2009